• Fri. Jun 18th, 2021

3 Rangkuman Berita Politik Nasional

Bysartika

Mar 26, 2021

Denny Siregar: Susi yang Dicinta Sekaligus Dibenci

Salah satu manfat dari membaca berita adalah anda akan mendapatkan pengetahuan dan juga informasi terbaru yang sedang terjadi saat ini, termasuk berita viral hari ini. Bicara mengenai politik dalam kesempatan kali ini akan coba memberikan 3 rangkuman berita politik nasonal sebagai berikut ini :

  • Dituduh Sewa Stasiun TV Demi Agenda Terselubung, Susi Beri Jawaban Telak

Baru-baru ini mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti kembali merespon tuduhan warganet di twitter. Kali ini, wanita yang identik dengan tampilan nyentrik ini dituduh telah menyewa stasiun televisi. 

Tuduhan yang ditayangkan dalam sebuah akun warganet tersebut, Presdir PT ASI Pudjiastuti Marine Product ini dianggap secara sengaja menyewa sebuah staisun televisi demi menayangkan acaranya sendiri.

“Kita bicara di diluar konteks saja ya bu. Kenapa ibu Susi menyewa stasiun televisi buat acara bu Susi. Pasti ada tujuannya, “ujar akun tersebut. 

Tidak terima dengan tudingan tersebut, lantas Susi mempertanyakan dari mana tuduhan tersebut berasal. “Sewa televisi? Hoax dari mana pak?” jawabnya. 

“Saking hebatnya mencari celah menstigma negatif…acara saya di Metro TV pun…Susui cek ombak…dibilang saya sewa…aduhhh Pak…Metro TV bayar honor saya setiap tayang…cukup untuk dapur dan bayar sekolah cucu saya.” tulis Susi. 

  • Melurukan Pandangan Kiblat Politik Identitas Indonesia

Perhelatan politik identitas acapkali dianggap menjadi ancaman bagi tumbuh kembangnya demokrasi. Banyak orang yang menganggap politik identitas ini suatu arena dan ruang negatif sehingga memunculkan stigma-stigma ataupun tendensi yang buruk. Apalagi saat menghadapi suasana pemilihan umum, dipastikan politik identitas akan semakin kentara. 

Sebenarnya urgensitas demokrasi adalah memberikan ruang koreksi kepada kelompok di luar negara untuk mengawal penyelenggaraan negara. Sehingga, apabila politik identitas dianggap sebagai ancaman terhadap demikrasi sama halnya dengan menolak karakter kemajemukkan dan pluralistik Indonesia. Sebab, politik identitas ini lahir dengan konsep terukur dan jelas. Bukan dianggap abstrak, semu, dan absurd. Nah, realitas kemajemukkan dalam demokrasi inilah politik identitas menjadi pewarna fenomena perpolitikkan di Indonesia. 

Selain itu, politik identitas ini juga bisa dilihat dalam aspek yang bermobilisasi dalam arena diantara masyarakat dan negara. Politik identitas ini juga sering disebut sebagai ruang ekspresi dan kebebasan masyarakat. 

  • Ray Sangkuti : Jokowi Kehilangan Pesona Kemampuan

Salah seorang pengamat politik Indonesia, Ray Sangkuti menilah bahwa Presiden RI, Jokowi mulai kehilangan pesona kemampuan mobilitas kesukarelawanannya. Hal ini merupakan sindiran halus dari Roy Sangkuti terkait mengkritik pemerintah dipersilahkan Jokowi, tapi bagaimana tanpa berurusan dengan polisi. 

“Akan lebih banyak lagi gejala di mana masyarakat memperlihatkan pesimisme publik terhadap presiden dari pada gegap gempita menyambut ajakan. Presiden (Jokowi), secara perlahan, mulai kehilangan pesona kemampuan mobilitas kesukarelawanannya, seperti yang selama ini dilekatkan padanya,” kata Roy Sangkuti, Rabu (17/2/2021). 

Selain itu, ia juga sependapat dengan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla yang bertanya mengenai mengkritik pemerintah tanpa berurursan dengan polisi. 

“Sngat benar (pernyataan JK). Jika dilihat respon masyarakat atas ajakan presiden agar masyarakat aktif mengeluarkan kritik justru lebih banyak mendapat tanggapan pesimis dari pada optimis,” ungkapnya. 

Menurutnya, ajakan Jokowi untuk mengkritik pemerintah itu akan berimbas kepada pesimisme publik atas ajakan tersebut.

“Tanggapan  pesimis dari pada optimis menunjukan dua hal. Pertama, kepercayaan kepada presiden makin menurun. Gejalanya bukan saja pada pesimisme publik atas ajakan tersebut, tapi termasuk di dalamnya ajakan wakaf nasional yang disikapi dingin oleh masyarakat,” ujar dia.