• Wed. Oct 5th, 2022

Kenapa banyak protagonis anime hidup tanpa orangtua?

Bydzail

May 8, 2022

Ada pembicaraan yang perlu dipermasalahkan dengan Dragon Ball Z’s Goku sebagai ayah untuk Gohan. Ia habiskan banyak tahun awalnya bocah lelaki itu mati, di luar dunia, training atau di lain tempat ia tidak menjadi ayah. Tetapi, meski begitu, Gohan, ketahui jika ayahnya masih menyukainya, sanggup tumbuh dengan sehat secara fisik atau psikis. Protagonis anime yang lain sama tidak dipengaruhi oleh ketidakberadaan orang-tua, yang disebut sisi dari kenapa benar-benar susah untuk menjelaskan kenapa mereka dihapus semenjak awalnya.

Kenapa banyak protagonis anime hidup tanpa orangtua?

Banyak watak anime lewat seri mereka mempunyai satu atau ke-2 orangtua mereka lenyap dari kehidupan mereka. Ini bisa terjadi untuk semua jenis argumen dan dengan begitu mempunyai semua tipe dampak pada watak. Pahami kenapa ini ialah trend umum dalam anime akan membutuhkan penglihatan lebih dekat mengenai bagaimana atau kenapa itu terjadi dan apa efeknya pada narasi.

Kemungkinan langkah umum untuk watak anime untuk kehilangan orangtua mereka ialah supaya mereka mati secara ironis. Bila itu terjadi saat protagonis terlampau muda untuk dikenang, karenanya tidak betul-betul memiliki arti untuk mereka. Bila mereka ingat, itu biasanya pengalaman traumatis yang memutar mereka dalam. Kerangka kunci dibalik kematian orangtua ini bisa benar-benar mengganti langkah watak berpikiran dan merasainya.

Contoh kontras yang bagus ini akan watak tituler Naruto dan temannya Sasuke Uchiha. Untuk Sasuke, mempunyai orang tuanya dan semua klannya terbunuh mengakibatkan benar-benar menyakitkan hingga ia habiskan semua seri cari balas sakit hati. Naruto, di lain sisi, tak pernah mengenali orang tuanya, sehingga ia tidak betul-betul dikuasai oleh kematian mereka, pun tidak dapat pahami merasa sakit kehilangan mereka. Sasuke panggilnya keluar pada ke-2 titik ini sepanjang pertempuran pertama mereka di lembah paling akhir. Ketidaksamaan di antara kapan dan bagaimana seorang tumbuh tanpa orangtua bisa membuat spektrum reaksi yang luas.

Bila seorang protagonis kehilangan orangtua mereka karena mereka terbunuh, karenanya menjadi kemampuan penggerak dibalik perlakuan mereka. Ini kerap bermanifestasi sebagai kemauan kuat untuk menaklukkan aktornya, umumnya untuk membalasnya sakit hati. Untuk mereka yang mengenal Sasuke sebagai deuteragonis, ada beberapa protagonis yang share ketidaksamaan ini; Beberapa contoh terkenal terhitung Eren Yeager (Attack on Titan), Lelouch Vi Britannia (code Geass), Shinn Asuka (Destiny Seed Gundam) dan Rin Okumura (Blue Exorcist). Untuk protagonis ini, kehilangan figur orangtua dan induknya ialah sumber merasa sakit yang luar biasa dan amarah besar yang semoga mereka bisa ditangani oleh seri mereka ‘.

Pemicu mangkir yang lebih enteng kembali datang dari orangtua Harem Protagonis. Dalam Anime Harem, orangtua dijauhkan dari rumah hingga lebih gampang untuk protagonis dan kekasih mereka untuk masuk ke semua jenis Hijinks Ecchi. Mereka dapat repot dengan tugas atau jet untuk mayoritas seri. Seri semacam itu terhitung tanggal hidup dan monster.

Sayang, orangtua jauh dari rumah karena mereka repot dengan tugas ialah peristiwa umum tidak cuma dalam anime tapi di Jepang keseluruhannya. Representasi terbaik dari ini dalam anime datang dari Neon Genesis Evangelion. Dalam seri ini, ayah Shinji Ikari Gendo jaga jarak karena begitu keutamaan kerjanya, tapi juga karena dia betul-betul tidak paham bagaimana berbicara dengan putranya. Wujud pengabaian ini tinggalkan Shinji dengan kekhawatiran menakutkan dan minimnya harga diri.

Tipe orang-tua yang lain mangkir ialah deadbeat. Mereka hidup tapi mereka tidak mengusung anak-anak mereka karena satu atau lain argumen. Goku bisa dipermasalahkan penuhi persyaratan sebagai ini, tapi contoh yang lebih bagus ialah pemburu Ging Freecs Hunter X. Ia tinggalkan putranya Gon dan semua keluarganya hingga ia dapat memburu maksudnya sebagai pemburu. Dibanding ambil permasalahan dengan pengabaiannya, Gon jadi ingin tahu mengenai pemburu dan jadi satu sama keinginan mendapati ayahnya. Apa penelusuran yang dibuat baik atau jelek bisa dipermasalahkan, tapi Gon nampaknya suka dengan ketetapannya.

Penglihatan yang lebih positif ke orang tua yang lenyap ialah bagaimana protagonis menyeimbangi mereka. Bahkan juga tanpa orangtua, mereka bisa pimpin kehidupan dengan kawan dekat dan orang yang lain perduli dari mereka. Ini berlaku untuk Naruto dan banyak protagonis Shonen lainnya; Monyet D. Luffy (One Piece), Natsu Dragneel (Fairy Tail) dan Goku. Dalam masalah ini, watak-karakter ini nyaris lebih bagus karena tidak mempunyai orangtua.

Tetapi itu terjadi, ada beberapa hal yang bisa terjadi bila protagonis anime tidak mempunyai orangtua mereka. Itu semua bergantung pada narasi apa yang penting dikisahkan dan bagaimana orangtua yang mangkir dibutuhkan untuk mengalihkan plot di depan. Umumnya mempunyai dampak negatif pada protagonis, tapi tidak selamanya. Tanggapan pada mangkir ini sama bervariatif seperti beberapa orang yang merasakannya.

 

 

Baca Anime di manhwaindo